Life are to Obses with the world
Obes ke Obses itu yang terjadi pada dunia sekarang.
kehidupan terlalu obses untuk dunia sehingga kita obes dengan dunia.
Apa yang ada pada kehidupan?
Ibarat sesaat sahaja kehidupan kita di dunia sehingga semua perkara kita ingin merasa,
seperti sesaat kemudian kita akan mati,
jadi dengan sesaat itu kita mencari segala keseronokan kebahgiaan dan sebagainya.
Kehidupan kita terlalu ego! ego dengan kesombongan diri,
tidak sikit pun merasa syukur malah takbur dengan kehidupan.
Hidup juga ibarat sombong yang bodohnya sombong itu memakan diri.
Untuk apa hidup kalau segala yang negatif masih di dalam diri?
untuk apa menjadi sempurna jika kesempurnaan itu selalu di tidas dengan kejahatan?
Ia sebaik baiknya kita berusaha seperti Burung Pipit.
Ye terima kasih juga Arjuna yang seperti Burung Pipit bercerita apa kata si Burung Pipit,
"setidak tidaknya aku ada jawapan di akhirat kelak".
Butiran kata ini tidak langsung tersusun rapi, tidak langsung di karang sempurna,
Cukup ia hanya bait bait minda yang terlintas di benak jauh di dalam hati.
Sayu tatkala jemari jemari ligat menekan punat huruf menyampaikan apa yang dirasa,
Namun mengerti kalian saat membaca?
Tahukah kalian apa yang ku rasa?
Sungguhpun dunia kita sedang berperang antara Gaza dan Israil,
Hati aku juga seperti di Gaza,
di Bom tanpa hala tuju,
Hancur bagai tiada harapan untuk membangun,
penuh linagan jernih sayu di hati,
penuh luka akibat hentaman,
Tapi siapakah dokter yang menyelamatkan aku?
siapakah manusia manusia yang memberi semangat?
siapakah yang datang mengusung ku?
Siapa selain Allah?
Saat bait bait ayat ini membaca, pasti mereka tahu hati aku kini sedang celaru, terlalu celaru, terlalu bercopang camping, terlalu rapuh, terlalu hancur,
Tapi pilihan aku tiada,
tiada tongkat untuk aku menongkat, tiada bahu untuk aku bersandar,
tiada tangan untuk ku ngengam, tiada telinga untuk mendengar, dan tiada mulut untuk kelu berbicara.
Mana letaknya Hati seorang manusia?
Sedang Allah mencipta tiada kurang bedanya?
Mengapa kitta menjadi rakus kerana kehidupan?
kenapa kita menjadi dayus dengan mereka yang kita sayang?
Mana pergi Tarbiah tarbiah diri ukhwah terhadap Allah?
mana pergi puisi puisi indah nasihat tatkala salah,
mana pergi pandangan redup tatkala hati berduka?